HABA ACEH TIMUR – Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, melaporkan bahwa banjir kali ini berdampak pada 24 kecamatan di wilayahnya. Dua kecamatan Simpang Jernih dan Serbajadi menjadi kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Di Serbajadi, tiga desa bahkan diduga hilang setelah diterjang banjir bandang.
Iskandar menyebut pihaknya belum dapat memastikan kondisi sebenarnya di wilayah tersebut. Akses menuju lokasi masih terputus total, baik jalur darat maupun jaringan komunikasi.
Ia menggambarkan kondisi kerusakan yang terjadi di lapangan: jalan-jalan rusak berat, arus air berputar dengan sangat kuat, dan permukaan aspal terkelupas. Menurutnya, situasi ini mengingatkan pada bencana besar yang pernah melanda daerah itu di masa lalu.
Terputusnya sinyal dan komunikasi membuat pendataan korban belum akurat. Laporan awal menunjukkan setidaknya delapan warga meninggal di enam kecamatan. Namun, jumlah tersebut diperkirakan lebih banyak karena dua kecamatan belum dapat dijangkau tim penyelamat.
Sementara itu, warga yang masih bertahan di rumah maupun di tempat-tempat pengungsian melaporkan kondisi semakin memprihatinkan. Mereka mulai kekurangan makanan dan air bersih karena jalur transportasi putus, listrik padam, dan sinyal telekomunikasi hilang total.
Hingga memasuki hari kedelapan pascabencana, Iskandar mengatakan belum ada bantuan dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi yang tiba di Aceh Timur. Kondisi ini terjadi akibat terputusnya jalur nasional Banda Aceh–Medan yang lumpuh dari dua arah akibat banjir dan longsor. Terhentinya jalur utama membuat distribusi logistik tidak dapat bergerak dan stok pangan masyarakat terus menipis.
“Kami belum menerima bantuan apa pun. Akses menuju Aceh Timur masih tidak bisa ditembus,” ujarnya.





Komentar