HABA ACEH TIMUR | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh mengambil langkah strategis guna menjamin ketersediaan semen di pasar lokal dengan menggandeng PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI).
Kerja sama ini bertujuan untuk menstabilkan harga yang belakangan melambung serta memastikan kelancaran proyek konstruksi maupun rehabilitasi pascabencana di wilayah tersebut.
Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, mengungkapkan bahwa pihaknya telah berkoordinasi langsung dengan PT SBI, yang merupakan induk perusahaan PT Solusi Bangun Andalas (SBA). Fokus utamanya adalah memperkuat rantai produksi dan distribusi semen khusus untuk kebutuhan Aceh.
“Agendanya memastikan produksi dan distribusi semen dapat berjalan maksimal, berkomitmen memprioritaskan pemenuhan kebutuhan semen di Aceh,” ujar Nurlis dalam keterangan resminya di Banda Aceh, Kamis (6/8/2026).
Ia menyoroti fenomena kenaikan harga semen yang memberatkan masyarakat dan menghambat proses pemulihan infrastruktur setelah banjir besar. Nurlis menyayangkan kenaikan harga tersebut terjadi di tengah melimpahnya bahan baku lokal.
“Harga semen di Aceh saat ini lebih tinggi dibandingkan beberapa provinsi lain, padahal sumber bahan baku dan industri semen berada di Aceh,” tambahnya.
Wilayah Pemerintah Aceh mendorong SBI untuk segera mengimplementasikan solusi konkret demi menekan harga di tingkat konsumen. Berdasarkan data teknis, pabrik penyedia memiliki kapasitas produksi mencapai 5.400 ton atau setara 135.000 sak per hari. Sementara itu, total kebutuhan harian di Aceh diproyeksikan berada pada angka 4.200 ton atau sekitar 105.000 sak.
“Dengan kapasitas produksi pabrik yang mencapai 5.400 ton per hari atau sekitar 135.000 sak per hari, Pemerintah Aceh berharap kebutuhan semen Aceh yang diproyeksikan sekitar 4.200 ton per hari atau 105.000 sak per hari dapat dipenuhi secara optimal sehingga tidak terjadi lagi kekurangan pasokan,” jelas Nurlis.
Menanggapi permintaan tersebut, Direktur Operasi SBI, Edi Sarwono, menegaskan komitmen perusahaan untuk memaksimalkan seluruh lini distribusi. Salah satu strategi utama adalah mengoptimalkan operasional di lima terminal pengantongan utama, yakni Lhoknga, Krueng Raya (Malahayati), Lhokseumawe I, Lhokseumawe II, dan Belawan.
“SBI akan mengoptimalkan operasional pada lima terminal pengantongan, yaitu: Lhoknga, Krueng Raya (Malahayati), Lhokseumawe I, Lhokseumawe II, dan Belawan,” terang Edi.
Ia menjelaskan bahwa terminal-terminal tersebut akan menerapkan sistem operasional tiga shift atau bekerja penuh selama 24 jam tanpa henti. Langkah ini diambil agar volume distribusi meningkat drastis.
“SBI berkomitmen memprioritaskan pemenuhan kebutuhan semen di Aceh melalui peningkatan produksi dan distribusi di seluruh terminal, sehingga kebutuhan masyarakat Aceh dapat terpenuhi dan stabilitas harga semen segera kembali normal,” tegasnya.
Guna memastikan efektivitas langkah ini, SBI akan melakukan pemantauan ketat dan evaluasi harian terhadap arus produksi dan distribusi. Selain mengandalkan pabrik lokal, perusahaan juga menyiapkan skema pengiriman tambahan dari luar Aceh secara bertahap sepanjang Agustus 2026.
Edi menegaskan bahwa kepentingan masyarakat Aceh tetap menjadi prioritas tertinggi perusahaan dalam alokasi produk.
“Pasokan untuk Aceh akan didahulukan melalui optimalisasi kapasitas produksi dan distribusi sebelum dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan wilayah lainnya,” pungkasnya.





Komentar